Wartawan Edy Mulyadi Absen Panggilan Polisi soal Penembakan 6 Laskar FPI

0
156

 

Bukatutup.net- Wartawan Edy Mulyadi tak memenuhi panggilan Bareskrim Polri. Edy dipanggil sebagai saksi untuk dimintai keterangan terkait peristiwa penembakan enam pengikut Habib Rizieq Shihab (HRS) di Tol Jakarta-Cikampek (Japek), Karawang, Jawa Barat.

“Tidak datang,” kata Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Andi Rian Djajadi, saat dikonfirmasi, Senin (14/12/2020).

Andi menuturkan Edy memberitahu kepada penyidik bahwa dirinya tidak dapat hadir hari ini. Edy meminta dijadwalkan pemanggilan ulang.

“Ada pemberitahuan ke penyidik dan meminta untuk dijadwalkan ulang. Nanti saya pastikan ke penyidik (jadwal pemanggilan ulang),” tuturnya.

Andi menyebut dalam pemanggilan ini, tim penyidik akan menggali informasi terkait peristiwa di tol berdasarkan informasi yang diperoleh Edy. Andi mengatakan ada saksi yang menyebut nama Edy.

“Sekadar untuk menggali pengetahuan yang bersangkutan tentang peristiwa. Karena ada saksi lain yang menyebutkan namanya,” ujarnya.

Edy Mulyadi sebelumnya membuat video laporan di Tol Japek Km 50 terkait penembakan pengikut Habib Rizieq yang diunggah melalui akun YouTube-nya @Bang Edy Channel. Dalam video berdurasi 6,24 detik yang dilihat detikcom, Edy mengatakan dia sudah mewawancarai beberapa pedagang di rest area Km 50.

“Saya tadi sempat ngobrol-ngobrol dengan beberapa pemilik warung di sekitar sini, mereka mengatakan peristiwanya sekitar jam 01.30 WIB. Tapi, menurut salah seorang warung, mengatakan bahwa mobil yang masuk ke sini kondisinya sudah bannya sudah tidak utuh. Jadi, begitu masuk dari ujung sana (masuk rest area), bannya sudah tidak ada, tinggal velg-nya saja,” kata Edy.

“Kresek-kresek, sudah berisik gitu. Kemudian saksi mata mengatakan mobil itu (pengikut Habib Rizieq) dipepet dua mobil polisi, tidak lama terdengar dua tembakan, dor… dor…,” lanjutnya

Edy mengatakan pedagang warung di sana mendengar dua kali tembakan saat peristiwa terjadi. Dalam video tersebut, Edy menjelaskan, jika para pedagang yang berada di lokasi diusir oleh polisi dan diminta menjauh.

“Saya tanya sama tukang warung sekitar sini ada dua kali tembakan saudara. Setelah itu beberapa warga maksudnya yang dagang di sini itu keluar tapi polisi sudah banyak mereka diusir, sana pergi, teroris, teroris,” ucapnya.

Edy Mulyadi menilai jika polisi sejak awal sudah membentuk stigma jika peristiwa yang terjadi antara polisi dengan pengikut Habib Rizieq sebagai penembakan teroris. Edy menyebut lokasi tidak jauh dari Musala di rest area Km 50.

“Jadi saudara sejak awal Polisi sudah menebarkan apa yang disebut namanya stigma orang-orang yang mau mendekat ke arah lokasi terjadinya penembakan disebut teroris. Nah ini di sini deket-deket musala sini, teroris. Tapi saya tanya katanya di sini ada tukang parkir di lokasi itu memang mereka diusir kira-kira jarak 1 meter sebelum lokasi, tidak boleh. Tidak ada police line,” ujarnya.

Edy menyebut rest area Km 50 menjadi tempat favorit polisi untuk melakukan penyergapan kasus-kasus narkoba dan teroris. Edy juga mengatakan pedagang di sana sudah terbiasa dengan proses penyergapan narkoba dan teroris yang dilakukan polisi.

“Ternyata lokasi Km 50 ini tanda kutip menjadi tempat favorit bagi polisi untuk menyergap biasanya bandar narkoba atau teroris sehingga, ketika ada peristiwa tembakan 2 kali, pemilik warung mengatakan, ya kita pikir kalau nggak narkoba ya teroris, karena sudah menjadi biasa juga,” imbuhnya.

Seperti diketahui, kontak senjata terjadi antara polisi dengan pengikut pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab(HRS) di Tol Jakarta-Cikampek. Akibatnya, enam pengikut Habib Rizieq tewas.

Kontak tembak itu terjadi pada Senin (7/12) dini hari, sekitar pukul 00.30 WIB. Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran mengatakan keenam pengikut Habib Rizieq itu ditembak karena melakukan perlawanan.

“Sekitar pukul 00.30 WIB di jalan Tol Jakarta-Cikampek Km 50 telah terjadi penyerangan terhadap anggota Polri yang sedang melaksanakan tugas penyelidikan terkait rencana pemeriksaan MRS yang dijadwalkan berlangsung hari ini jam 10.00 WIB,” jelas Fadil Imran.

Polisi telah memeriksa 14 saksi terkait insiden penembakan di Km 50 Tol Jakarta-Cikampek. Polisi menegaskan semua saksi dilengkapi bukti pendukung.

“Untuk sementara kita sudah periksa 14 saksi, nanti akan kita buktikan mulai dari TKP pertama di Sentul, nanti kita cari saksi di sana, kita perlu membuat saksi sampai dengan TKP berikutnya, berkaitan dengan adanya insiden,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jumat (11/12).

“Semua saksi yang melihat, yang mendengar silakan nanti akan kita periksa semuanya, kita akan terbuka, seperti yang disampaikan Pak Kabareskrim, ada hotline silakan kepada masyarakat memberikan informasi berkaitan dengan hal tersebut,” lanjutnya.

 

Sumber:detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here