Polisi Periksa 5 Saksi Pembunuhan Sadis di Sigi, 3 Pelaku Bawa Senpi

0
114

Bukatutup.net- Polisi menyambangi lokasi pembunuhan satu keluarga yang terjadi di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng). Sebanyak empat orang ditemukan tewas dan tujuh rumah dibakar saat peristiwa tersebut.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono mengatakan anggota Polsek Palolo telah mendatangi TKP kejadian pembunuhan. Kunjungan anggota Polsek Palolo dilakukan pada Jumat (27/11) pukul 13.00 Wita.

“Jumat, 27 November 2020, Polsek Palolo menerima informasi dari masyarakat bahwa ada salah satu warga Dusun 5 Lewonu yang dipenggal kepalanya dan beberapa rumah dibakar oleh orang tidak dikenal. Kemudian anggota Polsek Palolo segera mendatangi TKP dan pada pukul 13.00 Wita anggota Polsek Palolo yang dipimpin Kapolsek Palolo sampai di TKP. Sesampai di TKP, anggota Polsek Palolo menemukan 4 mayat dan 7 rumah warga dalam kondisi terbakar,” kata Awi melalui keterangan tertulis, Sabtu (28/11/2020).

Awi menuturkan polisi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) setelah beberapa jam mendapat laporan tersebut. Polres Sigi bersama tim inafis Polda Sulteng juga langsung mengevakuasi jenazah dan mencari saksi yang mengetahui serta melihat peristiwa tersebut.

“Olah TKP dilakukan Polres Sigi pada pukul 18.00 hingga 23.00 Wita oleh Tim Gabungan Polres Sigi yang dipimpin oleh Kapolres Sigi AKBP Yoga Priyahutama dan tim inafis Polda Sulteng, serta melakukan evakuasi jenazah, dan mencari saksi-saksi,” tuturnya.

Awi mengatakan polisi sudah menginterogasi 5 saksi. Menurutnya, berdasarkan keterangan saksi, pelaku berjumlah sekitar sepuluh orang.

Sebanyak tiga orang di antaranya membawa senjata api (senpi). Awi mengatakan, menurut keterangan saksi, diketahui ada 3 pelaku yang merupakan bagian dari kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) kelompok Ali Kalora.

“Ada 5 saksi yang diinterogasi menyatakan bahwa pelaku kurang-lebih 10 OTK, 3 orang bawa senpi (laras panjang 1 dan 2 senpi genggam). Saksi setelah diperlihatkan DPO teroris MIT, meyakini bahwa identitas 3 orang OTK tersebut adalah teroris pok Ali Ahmad @ Ali Kalora dan kawan-kawan,” ujarnya.

Lebih lanjut Awi mengatakan ratusan Satgas Tinombala Brimob Sulteng diterjunkan untuk mengejar pelaku. Perburuan pelaku juga dibantu pasukan TNI.

“Saat Ini sudah ada backup kurang-lebih 100 orang pasukan dari Satgas Tinombala, Brimob Polda Sulteng dan TNI untuk melakukan pengejaran terhadap pok Ali Kalora tersebut,” imbuhnya.

 

 

Sebelumnya, empat warga yang merupakan satu keluarga asal Desa Lembatongoa dibunuh secara sadis. Korban ada yang dibakar hingga kepala ditebas. 

Pembunuhan itu juga disebut dibarengi pembakaran rumah dan gereja di sekitar lokasi kejadian. Dari informasi yang diperoleh, peristiwa itu terjadi pada Jumat (27/11) sekitar pukul 10.00 Wita. Empat anggota keluarga itu ditemukan tewas mengenaskan di sekitar rumahnya.

Keempat anggota keluarga yang tewas dalam aksi pembunuhan sadis itu adalah pasangan suami istri (pasutri) dan anak perempuannya serta sang suami atau menantu dari pasutri.

“Benar dan itu kejadian pagi tadi. Korban ada sebanyak 4 orang yaitu pasutri atau pemilik rumah, anaknya dan menantunya atau suami dari anak perempuan pemilik rumah.” kata Sekdes Lembatongoa Rifai saat dihubungi, Jumat (27/11).

Keterlibatan kelompok teroris MIT sebelumnya diungkap Kapolda Sulteng Irjen Abd Rakhman Baso. Irjen Rakhman Baso mengatakan keterlibatan MIT didasari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP).

“Jadi dari hasil olah TKP serta keterangan saksi bahwa aksi sadis yang menyebabkan 4 orang warga Kecamatan Palolo tewas dilakukan oleh kelompok sipil bersenjata MIT,” kata Kapolda Sulteng Irjen Abd Rakhman Baso kepada detikcom, Sabtu (28/11).

Dia mengatakan aparat gabungan TNI-Polri Satgas Tinombala tengah mengejar kelompok tersebut sesuai petunjuk dari hasil olah TKP. Korban dibunuh secara sadis, yakni ada yang dibakar hingga kepala ditebas.

“Pengejaran terhadap arah pelarian pelaku yang sesuai dengan hasil olah TKP sementara dilakukan. Upaya untuk mempersempit area pelarian yang mengarah ke hutan di Palolo, terus dilakukan hingga saat ini,” tutur Irjen Rakhman Baso.

 

Sumber:detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here