Jejak Perkara Harris Pembunuh Sekeluarga di Bekasi Berujung Vonis Mati MA

0
121

 

Bukatutup.net- Asa Harry Aris Sandigon alias Harris Simamora lolos dari hukuman mati kandas. Mahkamah Agung (MA) menolak kasasi pria yang tega membunuh sekeluarga di Bekasi dengan linggis.

Pembunuhan tragis ini berawal saat Harris gelap mata membunuh keluarga Daperum Nainggolan
sekitar pukul 23.45 WIB, Senin (12/11/2018), hingga sekitar pukul 00.30 WIB, Selasa (13/11/2018), di kediaman Daperum, Jl Bojong Nangka, Pondok Melati.

Ada empat korbannya, yakni Daperum Nainggolan, Maya Boru Ambarita, Sarah Nainggolan, dan Yehezkiel Arya Paskah Nainggolan.Daperum dan Maya dibunuh Harris dengan linggis, sementara Sarah dan Arya tewas dicekik Harris.

Harris ternyata punya hubungan keluarga dengan istri Daperum. Harris pernah dipercaya mengelola kontrakan milik kakak Daperum, Douglas. Kontrakan ini menyatu dengan warung dan tempat tinggal Daperum bersama istri dan dua anaknya.

Pembunuhan ini berlatar belakang sakit hati atas pernyataan korban saat Harris Simamora hendak menginap.

Setelah membunuh, Harris lari seribu langkah. Harris lalu ditangkap di kaki Gunung Guntur, Garut. Sempat mengelak pada interogasi awal, Harris kemudian mengakui perbuatannya dan dimintai pertanggungjawaban di meja hijau.

Rangkaian persidangan nan panjang telahdijalani Harris hingga akhirnya MA menolak permohonan kasasi pria kelahiran 15 Desember 1995 itu. Berikut jejak perkara pembunuh sekeluarga di Bekasi:

Didakwa Pembunuhan Berencana

Harris Simamora didakwa melakukan pembunuhan berencana terhadap keluarga Daperum Nainggolan di Bekasi. Harris terancam hukuman mati.

Dalam surat dakwaan yang dibacakan di PN Kota Bekasi, Senin (11/3/2019), jaksa penuntut umum menyebut Harris dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dulu merampas nyawa orang lain.

Jaksa memaparkan terdakwa Harris mulanya mendapat pesan WhatsApp dari Maya Ambarita sekitar pukul 14.00 WIB, Senin, 12 November 2018.

“Kamu datang sekarang, besok kita mau belanja ke Tanah Abang jam 7 pagi,” begitu pesan Maya ke Harris. Harris saat itu, menurut jaksa, langsung mengiyakan.

Sekitar pukul 21.00 WIB, Senin (12/11/2018), Harris Simamora tiba di rumah Daperum Nainggolan. Harris mengobrol bersama Daperum dan istrinya, Maya Ambarita.

Kemudian sekitar pukul 23.30 WIB, terdakwa Harris, menurut jaksa, mendengar kata-kata yang menyinggung yang diucapkan Daperum Nainggolan. “Nginap atau nggak kamu? Kalau kamu nginap, nanti nggak enak sama Bang Doglas,” sebut jaksa dalam surat dakwaan.

Maya Ambarita ikut menimpali perkataan suaminya. “Terserah mau nginap atau nggak. Soalnya ini bukan rumah kita. Kita cuma numpang di sini,” ujarnya.

Urusan menginap ini terus dibahas Daperum. Daperum disebut jaksa dalam surat dakwaan menyebut kakaknya, Doglas, tak suka bila Harris menginap di rumah yang dihuni.

“Kemudian korban Daperum Nainggolan berkata kepada terdakwa (dalam) bahasa Batak yang artinya ‘kamu tidur di belakang aja, kayak sampah kamu’,” sambung jaksa.

Dari sini Harris Simamora kemudian membunuh korban. Harris menghabisi nyawa korban dengan linggis.

Harris didakwa dengan Pasal 340 KUHPidana, Pasal 363 ayat 1 ke-3 KUHPidana, dan Pasal 338 KUHPidana.

“Terdakwa didakwa dengan Pasal 340 KUHP (tentang) pembunuhan berencana dan Pasal 363. Dakwaan kumulatif karena ada fakta juga dia setelah membunuh, dia mengambil barang-barang milik korban,” ujar jaksa.

Dituntut Huluman Mati

Harris Simamora dituntut hukuman mati. Haris dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan satu keluarga di Bekasi.

“Tuntutan jaksa penuntut umum, terbukti pasal 340 KUHP ( Dakwaan Kesatu Primair ) dan pasal 363 ayat 1 ke- 3 KUHP. Dituntut pidana mati,” kata humas PN Bekasi, Djuyamto kepada wartawan, Senin (27/5/2019).

Haris dinilai terbukti melakukan pembunuhan berencana dan pencurian dengan pemberatan. Hal-hal yang memberatkan perbuatan Haris tergolong perbuatan yang sadis.

“Hal-hal yang meringankan tidak ada,” ujarnya.

Terhadap tuntutan JPU tersebut, Terdakwa dan penasihat hukumnya akan mengajukan pledoi pd Senin 24 Juni 2019.

Divonis Mati

Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bekasi menjatuhkan vonis mati bagi Harry Aris Sandigon alias Harris Simamora atas pembunuhan satu keluarga di Bekasi, Jawa Barat. Harris dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan pembunuhan berencana.

“Menjatuhkan pidana terhadap Harry Aris Sandigon alias Harris alias Ari dengan pidana mati,” ujar hakim ketua Djuyamto di PN Bekasi, Jalan Pramuka, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Rabu (31/7/2019).

Haris dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan berencana satu keluarga di Bekasi. Hakim menilai tidak ada hal yang meringankan dari terdakwa.

“Berdasarkan Pasal 340 KUHPidana dan Pasal 363 ayat (1) ke-3 KUHPidana dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang hukum acara pidana serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan, mengadili menyatakan Harry Aris Sandigon alias Harris alias Ari telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana dalam keadaan yang memberatkan,” ujar Djuyamto.

Vonis atas Harris sesuai dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU), yakni hukuman mati. Atas vonis ini, pihak terdakwa dan jaksa penuntut umum mengajukan permohonan banding.

Ajukan Banding

Harry Aris Sandigon alias Harris Simamora dijatuhi hukuman mati atas pembunuhan satu keluarga di Bekasi. Atas vonis tersebut, pengacara mengajukan banding.

“Atas putusan majelis hakim, kami akan tetap melakukan banding,” kata pengacara Harris Simamora, Alam Simamora di Pengadilan Negeri (PN) Bekasi, Jalan Pramuka, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Rabu (31/7/2019).

Majelis hakim PN Bekasi menjatuhkan hukuman mati bagi Harris Simamora. Dia dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan berencana terhadao keluarga Daperum.

“Menjatuhkan pidana terhadap Harry Aris Sandigon alias Harris alias Ari dengan pidana mati,” ujar Hakim Ketua Djuyamto di PN Bekasi, Jalan Pramuka, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Rabu (31/7/2019).

Haris dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan berencana satu keluarga di Bekasi. Hakim menilai tidak ada hal meringankan dari terdakwa.

“Berdasarkan pasal 340 KUHPidana, dan pasal 363 ayat (1) ke 3 KUHPidana dan Undang-undang nomor 8 tahun 1981 tentang hukum acara pidana serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan, mengadili menyatakan Harry Aris Sandigon alias Harris alias Ari telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana dalam keadaan yang memberatkan,” ujar Djuyamto

Tetap Divonis Mati, Ajukan Kasasi

Permohonan banding Harris ditolak Pengadilan Tinggi (PT) Bandung sehingga ia tetap dihukum mati karena membunuh sekeluarga di Bekasi. Tidak terima, Harris mengajukan kasasi.

Masih takut dieksekusi mati, Harris memilih mengajukan kasasi. Permohonan kasasi itu masih diproses di Mahkamah Agung.

MA Vonis Mati

Mahkamah Agung (MA) menolak kasasi Harris dan menguatkan hukuman mati yang dijatuhkan kepada Harris.
“Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi/Terdakwa Harry Aris Sandigon alias Harris tersebut,” demikian bunyi putusan kasasi yang dilansir di website MA, Jumat (4/12/2020).

Duduk sebagai ketua majelis Burhan Dahlan dengan anggota Dudu Duswara dan Hidayat Manao. Majelis kasasi menyatakan Harris terbukti melakukan pembunuhan berencana sekeluarha di Bekasi.

“Berdasarkan fakta-fakta yang relevan secara yuridis terbukti bahwa perbuatan Terdakwa menghilangkan nyawa para korban tidak dilakukan secara spontan dan seketika melainkan ada jarak waktu yang cukup bagi Terdakwa untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatannya, yang dinyatakannya Terdakwa melakukan perbuatan tersebut,” kata majelis kasasi dengan panitera pengganti Pranata Subhan.

Majelis kasasi menyatakan pembunuhan yang dilakukan Harris sangat biadab. Harris mengambil linggis langsung mendatangi Daferum yang sedang tiduran melihat televisi kemudian memukulkan besi linggis ke arah kepala Daferum dan kepada Maya. Secepat kilat, Harris mencekik dua anak Defarum-Maya hingga mati.
“Perbuatan Terdakwa dilakukan sengaja tidak mengenal rasa kemanusiaan Terdakwa telah menghilangkan nyawa para korban sebanyak 4 orang, satu keluarga, Terdakwa cukup pandai dalam menghilangkan jejak sehingga menyulitkan penyidikan. Oleh karenanya pidana yang dijatuhkan tersebut, telah dipandang adil dan setimpal dengan perbuatan Terdakwa,” ujar majelis.

 

Sumber:detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here